Paku di Tiang

Pak Ali mempunyai seorang anak lelaki bernama Azim. Sedari kecil Pak Ali tidak pernah putus menekankan didikan agama untuk Azim. Namun, Azim tetap membesar menjadi seorang yang lalai menunaikan seruan agama. Meskipun berbuih mulut Pak Ali menasihati Azim agar patuh seruan dan perintah Allah. Tetapi Azim tetap ingkar untuk bersembahyang, puasa, zakat dan lain-lain. Bahkan Azim memilih amal kejahatan pula sebagai rutin hidupnya.

        Suatu hari Pak Ali memanggil anaknya dan berkata, “Azim, kamu ini sangat lalai dan terlalu banyak berbuat kemungkaran. Mulai hari ini ayah akan tancapkan satu paku ke tiang di tengah halaman rumah kita. Setiap kali kamu berbuat satu kejahatan, maka ayah akan tancapkan satu paku ke tiang ini. Dan setiap kali kamu berbuat satu kebajikan, sebatang paku akan ayah cabut keluar dari tiang ini”. 

Ayahnya berbuat seperti mana yang dia janjikan, setiap hari dia akan memukul beberapa batang paku ke tiang tersebut. Kadang-kadang sampai berpuluh paku dalam satu hari. Jarang-jarang benar dia mencabut keluar paku dari tiang.

Hari silih berganti, beberapa purnama berlalu, dari musim hujan berganti kemarau panjang. Tahun demi tahun beredar. Tiang yang berdiri megah di halaman kini telah hampir dipenuhi dengan tusukan paku-paku dari bawah sampai ke atas. Hampir setiap permukaan tiang itu dipenuhi dengan paku-paku. Ada yang berkarat kerana hujan dan panas. 

Setelah Azim melihat keadaan tiang yang dipenuhi dengan paku-paku yang menjijikkan tersebut, timbullah rasa malu. Lalu terdetik rasa untuk memperbaiki dirinya. Mulai detik itu, Azim mula bersembahyang. Hari itu saja lima batang paku dicabut ayahnya dari tiang. Besoknya sembahyang lagi ditambah dengan sunnah-sunnahnya. Lebih banyak lagi paku tercabut. Hari berikutnya Azim tinggalkan sisa-sisa maksiat yang melekat. Maka semakin banyaklah tercabut paku-paku tadi. Hari demi hari, semakin banyak kebaikan yang Azim lakukan dan semakin banyak maksiat yang ia tinggalkan, hingga akhirnya hanya tinggal sebatang paku yang tinggal melekat di tiang.

Maka ayahnya pun memanggil anaknya dan berkata, “Lihatlah anakku, ini paku terakhir, dan ayah akan mencabutnya sekarang. Tidakkah kamu gembira?” Azim merenung pada tiang tersebut, dia mulai menangis teresak-esak. “Kenapa anakku?” tanya ayahnya, “Ayah menyangka kamu gembira kerana semua paku-paku tadi telah tiada”. 

Dalam nada yang sayu Azim menjawab, “Wahai ayahku, sungguh benar katamu, paku-paku itu telah tiada, tapi aku bersedih lubang-lubang dari paku itu tetap ada ditiang, bersama dengan karatnya”.

Sesuatu yang dimuliakan, dengan dosa-dosa dan kemungkaran yang seringkali diulangi hingga akan menjadi suatu kebiasaan, dan kita mungkin bisa mengatasinya atau secara berangsur-angsur kita dapat menghapuskannya, tetapi ingatlah bahwa bekas yang ia tinggalkanya tidak akan hilang. 

Dari situ, bilamana kita merenungi untuk melakukan suatu kemungkaran, ataupun sedang berniat melakukan kemungkaran, maka berhentilah. Karena setiap kali kita bergelimang dalam kemungkaran, maka kita telah membenamkan sebilah paku lagi yang akan meninggalkan bekas lubang pada jiwa kita, meskipun paku itu kita cabut kemudiannya. Apa lagi kalau kita biarkan sampai berkarat dalam diri ini sebelum dicabut. Lebih-lebih lagilah kalau dibiarkan berkarat dan tak dicabut.

Penulis:
Bambang TP