Tangisan Cinta

Bismillahirrahmanirrahim.....semulia kalam pembukaan tatkala rindu menderu...sahabat-sahabat jom hayati kisah cinta yang sarat air mata... moga rindu ini mampu membuatkan kita kembali sedar tentang seorang kekasih yg sentiasa setia...



Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. 'Bolehkah saya masuk?' tanyanya.

Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, 'Maaf, ayahku sedang demam, kata Fatimah. Ia kemudiannya menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah 'Siapakah itu wahai anakku?' Dengan tutur yang lembut Fatimah membalas "entahlah ayah, orang sepertinya baru pertama kali ini aku melihatnya'.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.


Dengan nada sebak baginda berkata 'Ketahuilah anakku, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,' sambung Rasulullah lagi. membuatkan Fatimah menahan ledakan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.

'Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu. 'Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,' kata Jibril.

Tapi itu ternyata tidak membuat kan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

'Engkau tidak senang mendengar khabar ini?', tanya Jibril lagi.

'Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?'

'Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku:

'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,' kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan roh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

'Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.' Perlahan Rasulullah mengaduh.

Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

'Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?' Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

'Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,' kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.

'Ya Allah, dahsyatnya maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.'

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya. 'Uushiikum bis shalati, wa 'peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.'

Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

'Ummatii,ummatii,ummatiii?' - 'Umatku, umatku, umatku' dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.

Tatkala diri kita sibuk mencari cinta sejati..masih ingatkah kita pada insan yang terlalu menyayangi kita yang sehingga akhir hayatnya tetap mengenangkan kita??Betapa cintanya Baginda kepada kita. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya??? Di Mana Baginda di hati kita????  ='(

Allahumma solli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihih